Apakah Perlu Investasi?

Ya terserah Emak. Ada yang punya dana berlebih lalu cukup disimpan di bank. Juga ada yang menghabiskan saja kelebihan uangnya. Tapi kalau ingat harga cabe sekilo yang baru-baru ini meroket, jadi memprihatinkan dan agak mikir. Itu baru harga cabe lho Mak, belum harga-harga yang lain seperti bawang merah, tomat, daging, telur, beras, minyak, dan bahan pangan lainnya. Kalau sambal tanpa cabe so pasti amit-amit..

Berdasarkan data dari Informasi Pangan Jakarta, perkembangan harga rata-rata cabe merah keriting di pasar-pasar Jakarta selama sebulan dari 10 Desember 2016 s/d 10 Januari 2017 menunjukkan di kisaran Rp 50.000,-/kg. Jika dibandingkan selama setahun ke belakang (Januari 2016 s/d Januari 2017), harga cabe merah keriting mengalami kenaikan dengan harga tertinggi Rp 80.000,-. Nah, Emak kalau ngulek sambal biasanya pakai berapa cabe?

Belum lagi biaya pendidikan yang kalau kita baca koran di kolom-kolom konsultasi perencana keuangan, setiap tahun meningkat. Sementara gaji suami tercinta atau gaji kita di angka situ-situ sajaItu pun masih bersyukur kalau suami masih bisa bekerja atau “gaji kita naik kelas”. Tahun lalu, banyak pegawai khususnya di industri minyak & gas yang mengalami pemecatan masal akibat semakin tingginya harga minyak yang disebabkan oleh over supply.

Jadi, disarankan agar kita sebagai “emak-ers” sedia payung sebelum hujan – seperti kata nenek-nenek kita dulu, dengan mengantisipasi inflasi atau kenaikan harga barang atau jasa. 

Dalam hal ini, inflasi belum tentu buruk ya Mak. Inflasi bisa juga menjadi pertanda bahwa perekonomian negara kita sedang bertumbuh. Asal gaji kita atau suami juga ikut tumbuh kali ya.. Hehehe…

Lalu apa hubungannya dengan investasi? Boro-boro investasi, tabungan saja hobi dikuras karena semakin hari pengeluaran semakin bertambah. Mana bisa investasi? 

Ingat Mak, di posting sebelumnya – Investasi, Apa itu? – tabungan juga termasuk kelompok investasi (Investasi Pinjaman). Jadi, dengan Emak sudah rajin menabung (Amiin..) maka Emak juga sudah bisa dikatakan berinvestasi, namun dalam skala kecil.

Nah, sekarang mari kita berusaha “menumbuhkan” investasi kita seperti membesarkan krucils kita sendiri. Sebelumnya, yuks kita lihat terlebih dahulu perbandingan potensi return atau imbal hasil instrumen investasi beserta masing-masing risikonya.

investasi

Kunci yang perlu diingat disini adalah bahwa berinvestasi itu seperti garis linier (duh, kayak matematika aja). High risk, high return dan sebaliknya, low risk, low return. Semakin tinggi tingkat risiko suatu investasi, maka imbal baliknya semakin besar. Dan semakin rendah tingkat risiko suatu investasi, maka imbal baliknya pun kecil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s