Antara Imbal Balik Investasi dan Inflasi

Antara Jakarta dan Anyer ada kau dan aku, kalau antara imbal balik investasi (return) dan inflasi ada apa hayooo..?

Ada selisih, Mak. Selisih ini adalah pendapatan atau hasil investasi kita (gain).

Ibaratnya kita berbisnis mukena dengan membeli secara grosiran dari Tanah Abang yang entah kenapa harganya semakin hari makin naik. Lalu kita jual kembali secara online dengan harga eceran yang tentu saja lebih tinggi dari harga Tanah Abang agar kita mendapat keuntungan. Harga beli mukena grosir Tanah Abang disini adalah seperti inflasi, dimana harganya memiliki potensi untuk naik dalam waktu tertentu. Sedangkan bisnis mukena online adalah investasi kita dimana selisih antara harga beli & harga jual merupakan keuntungan atau gain yang kita dapatkan. Sementara hal-hal penyebab harga grosir mukena naik adalah seperti faktor makroekonomi yang biasanya tidak menentu.

bi_infografis_inflasi_tahun_2016_-_bank_sentral_republik_indonesia
Sumber: http://www.bi.go.id

Berdasarkan data Bank Indonesia, rata-rata inflasi di Indonesia dalam 10 tahun terakhir adalah 5.8% per tahun. Masih ingat inflasi kan Mak? Inflasi ini tak ayal lagi mempengaruhi daya beli kita karena nilai uang kita menjadi turun akibat harga-harga barang/jasa yang meningkat. Yaaa.., seperti yang sedang menjadi trending topic kaum emak di warung sebelah terkait harga cabe yang melambung. Belum lagi harga bensin, listrik, dll yang menjadi hajat hidup orang banyak termasuk kita.

Bank Indonesia membagi inflasi menjadi tiga kelompok yaitu Inflasi Inti, Inflasi Bahan Makanan Pokok, dan Inflasi Harga yang Diatur Pemerintah. Contoh barang/jasa terkait inflasi di masing-masing kelompok tersebut dapat kita lihat di infografik BI Tahun 2016 di bawah ini. Dari sini disimpulkan bahwa secara keseluruhan inflasi yang dialami Indonesia pada tahun 2016 adalah sebesar 3.02%. Bisa dikatakan cukup bagus karena angka tersebut berada di bawah kisaran target yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu 4 +/- 1%.

bi_infografis_inflasi_tahun_2016_-_bank_sentral_republik_indonesia-2
Sumber: http://www.bi.go.id

Melihat kondisi yang seperti ini, jika tabungan kita di bank yang berupa deposito memberikan return rata-rata 4.6% per tahun maka bunga deposito kita berada 1% di atas tingkat inflasi tahun 2016. Imbal balik yang kita dapatkan tak seberapa, Mak..

Bagaimana dengan return instrumen investasi yang lain?  Surat Utang Negara (SUN) yang merupakan salah satu produk obligasi Pemerintah memberikan return rata-rata 12% per tahun. Sedangkan dari hasil kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun lalu memberikan return rata-rata 15% per tahun. IHSG merupakan barometer (kayak timbangan gitu Mak) yang menunjukkan naik-turunnya harga-harga saham secara gabungan di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Baca juga: Apakah Perlu Investasi)

Kalau sudah tahu begitu, yuks Mak, mulai sekarang kita pelan-pelan beralih ke instrumen investasi yang lain. Belajar bareng sedikit demi sedikit, agar lama-lama investasi kita menjadi bukit dan mengalahkan inflasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s