3 Kunci Memesona Tak Lekang Masa

Sejak kecil saya suka membaca. Supaya tidak sering saya todong pergi ke toko buku karena buku yang dibeli sebelumnya sudah habis saya lahap, bapak saya melangganankan majalah khusus anak untuk saya. Beranjak remaja, majalah yang merupakan teman saya bermain dan belajar tersebut “ikut meremaja” berubah menjelma menjadi majalah yang telah membesarkan nama Mbak Dian Sastro.

Dari majalah tersebut, saya menjadi selalu updated dengan trend masa itu, lagu-lagu tahun 90an, demam boys band, asesoris kalung choker, sandal/sepatu wedges yang ngehits, gosip terbaru Jennifer Aniston dengan Brad Pitt, review episode sitkom That 70’s Show, dll. Yang bikin saya suka adalah pada waktu mengisi kuis-kuis untuk mengetahui seperti apa sih sebenarnya profil karakter kita, cocok-enggaknya zodiak kita dengan gebetan, sampai kuis yang biasa-biasa saja, misalnya arti warna favorit. Selain kuis, tentu saja pin up atau poster bergambar idola – ketika itu – yang rata-rata berukuran kertas A4.

Namun di luar hal-hal tersebut di atas, yang paling membuat saya menjadi mahfum dan berpikir meresapi seraya mengucap,”Hmmm…hmmm…begitu ya…” saking mengenanya di hati, adalah ulasan tentang bagaimana sebaiknya kita bersikap dalam sehari-hari atau budi pekerti. Budi pekerti ini yang nantinya akan membentuk karakter kita hingga bagaimana orang lain mengenali kita dari karakter yang kita miliki tersebut. Orang bule menyebutnya “attitude”.

Attitude

Saya masih ingat betul dengan ulasan yang saya baca di majalah tersebut tentang 3 kunci utama dalam mengarungi hidup. Yup, hanya 3, tidak lebih tidak kurang yangmana di waktu sekarang ini seringkali kita lupakan. Padahal ketiga kata ini justru sebenarnya sangat penting untuk dibiasakan. Ketiga kata ini yang membedakan kita dari yang menganggap kata-kata tersebut tidak ada gunanya, basa-basi maupun yang bergengsi berat. Dan ketiga kata inilah yang menunjukkan bagaimana ketulusan kita dalam berinteraksi terhadap orang lain.

1.  #MemesonaItu Mengucapkan “Tolong”

Mulai dari anak saya yang pertama alias si Krucil Cantik balita, sudah saya biasakan untuk mengucapkan “tolong” di setiap ia memerlukan bantuan apa saja. Membukakan kemasan cemilan favoritnya, mengaitkan kancing baju, mengambil handuk yang letaknya lebih tinggi, menggunting, minta dibantu membereskan mainan, dsb. Pada awalnya memang ia tidak biasa dan sering lupa mengucapkannya. Sampai dengan sekarang di usianya yang ke-8, si Krucil Cantik masih kerap lupa mengucapkan “tolong” sampai-sampai justru diingatkan oleh si Krucil Ganteng atau adiknya. Namun saya percaya ia bisa. Asa bisa karena biasa. 

Di negara orang bule, kata “tolong” ini sudah mendarahdaging di setiap percakapan mereka. Apa saja yang mereka inginkan agar dapat dibantu maupun ketika menawarkan bantuan, selalu tidak luput menyisipkan kata,“Please.”

“Would you please hand me over the screwdriver?”

“Can you please speak louder?”

“Please kindly be informed that the fire drill will takes place on April 7, 2017.”

“Please do.”

Bandingkan dengan kalau kita meminta bantuan namun tanpa didahului dengan mengucapkan “tolong.”

“Bawakan kesini makanan di nampan itu.”

“Kerjakan bagian yang ini, jangan sampai ada yang salah hitung.”

Yang kita mintai bantuan mungkin akan tetap membantu kita namun dengan hati yang kesal. Apalagi kalau kita meminta dengan bernada keras, bisa-bisa langsung disalahartikan sebagai sebuah perintah. Meskipun seseorang tersebut adalah orang yang paling dekat dengan kita, tetap perlu mengucapkan “tolong.” Apabila orang terdekat dengan kita saja memerlukan kata sakti ini, apalagi orang lain.

Tanpa disadari, mungkin banyak dari para mbak asisten rumah tangga (ART) kita yang tersinggung jika kita meminta bantuan mereka tanpa disertai dengan kata “tolong”. Terlebih lagi, para asisten rumah tangga kekinian berbeda dari mbak/mbok/bibi yang tangguh dan loyalitas penuh dalam membantu orang tua kita.

Sekarang, banyak diantara mereka yang mudah terbawa perasaan atau baper-an sehingga gampang tersinggung dan “punya banyak dapur” saking seringnya keluar-masuk rumah yang berlainan. Pada akhirnya, bisa jadi krucils kita yang akan menerima dampaknya. Tentunya, kita tidak ingin itu terjadi bukan? Bagaimanapun juga, para ART juga seseorang – sama seperti kita – yang memiliki perasaan, keinginan, dan harapan serta kebutuhan sehingga harus bekerja.

Dengan kita mengucapkan tolong, secara tidak langsung maka kita telah menolong diri kita sendiri dan keluarga kita. Sebaliknya, setiap pertolongan yang kita berikan adalah seperti benih yang kita tanam dimana suatu saat akan berbuah manis dan memberikan kita kebahagiaan.

2. #MemesonaItu Menghaturkan “Terima Kasih”

Saat ini, bisa dibilang kita pun jarang menghaturkan terima kasih secara tulus. Belakangan, kata-kata “terima” dan “kasih” telah bertransformasi menjadi “makasih”, “mamacih”, “ma’acih”, “kamsia”, “tengkyu”, dll. Kata-kata ini diucapkan dengan terburu-buru atau sambil lalu saja dan kurang kesungguhan. Padahal… Seseorang atau orang-orang yang membuat kita berterima kasih telah membantu kita dengan sungguh-sunguh dan mungkin sudah mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit serta telah melalui proses yang panjang.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 2 kata “terima kasih” merupakan kata benda yang memiliki 1 makna rasa syukur. “Berterima kasih” (kata kerja) adalah mengucap syukur; melahirkan rasa syukur atau membalas budi setelah menerima kebaikan dan sebagainya.

Sedangkan berdasarkan kamus Merriam-Webster, definisi “thank you” adalah a polite expression of one’s gratitude. A polite expression adalah ekspresi atau ungkapan yang sopan. Of one’s gratitude merupakan rasa syukur seseorang (terhadap sesuatu). Nah, dalam bahasa orang bule ini, terdapat kata “polite”. Oleh karenanya tidak heran jika kebanyakan dari mereka benar-benar mengucapkannya dengan sunguh-sungguh, sopan, dan tulus.

Dalam budaya orang bule, ketika seseorang memuji orang lain seperti,“You did a great job!” serta merta orang yang dipuji lantas menghaturkan,“Thank you.” Berbeda dengan budaya kita. Kalau kita para kaum wanita dipuji orang lain, lebih-lebih suami, apa yang biasanya kita lakukan? Diam saja tersipu-sipu malu. Hehehe.

Sudahkan Emak mengucapkan “terima kasih” hari ini? Paling tidak, bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki dan berterima kasih kepada Allah SWT sehingga masih bisa menikmati waktu yang diberikan sampai dengan hari ini. 🙂

3. #MemesonaItu Meminta & Memberi “Maaf”

Tidak dipungkiri, ucapan “maaf” itu sangat berat. Baik yang meminta maupun yang memaafkan. Hanya segelintir orang (mungkin) yang mudah meminta dan/atau memberi maaf. Mengapa berat? Bermacam-macam alasannya. Tapi yang pasti, salah satu penyebabnya adalah gengsi. Tak sedikit yang menganggap gengsi adalah harga atau kehormatan diri. Padahal harga diri (kehormatan diri) itu jauh berbeda dari gengsi.

Harga diri adalah bagaimana kita menilai diri sendiri dalam memiliki kemampuan, keberartian, penghargaan terhadap diri pribadi, dan kompetensi. Dapat diartikan juga sebagai penilaian individu terhadap kehormatan dirinya, yang diekspresikan melalui sikap terhadap dirinya (Gillmore, 1974).

Nah, sementara gengsi adalah persepsi (anggapan) kita sendiri bahwa kita adalah pribadi yang lebih baik. Lebih baik disini bisa banyak diartikan. Bisa jadi yang paling pintar, paling benar, paling tenar, dll. Intinya kita “lebih tinggi” daripada orang lain. Bisa dikatakan juga bahwa gengsi ini “temannya sombong”. Padahal… Tak ada satu pun manusia yang dapat mengalahkan kuasa Allah SWT. Jadi, sebenarnya, hanya Allah-lah yang lebih berhak bertinggi hati.

Namun, meminta maupun memberi maaf bisa juga sulit dilakukan karena terlalu malu atau malu-maluinnya keterlaluan. Hehehe. Seseorang tersebut mungkin telah menyadari kesalahan yang diperbuatnya, tetapi malu untuk mengakuinya. Malu itu sebagian dari iman. Dan malu merupakan pembeda antara manusia dari hewan. Tapi disini, penerapan memalukan ini kurang tepat.

Malulah ketika tak mampu membedakan yang baik dari yang buruk. Meminta atau memberi maaf adalah akhlak yang terpuji dan bukan memalukan. 

Malulah kepada Allah SWT. Karena Allah Maha Memaafkan.

Easy to say, hard to do. Saya juga seringkali susah untuk meminta maaf maupun memberi maaf. Tapi toch, kalau masalahnya diingat terus-menerus, membuat saya kesulitan sendiri untuk move on. Padahal sebagai mak-emak, banyak yang harus dilakukan dan ingin saya lakukan. So much to do, so little time.

Jadi, menjadi senantiasa #MemesonaItu sebenarnya tidak sulit. Bahkan gratis. Kita tidak perlu repot-repot mengeluarkan tenaga, waktu, dan biaya untuk pergi ke pusat perbelanjaan, meninggalkan tugas domestik rumah tangga, dan membayar produk-produk kecantikan yang tidak murah. Dengan membiasakan diri mengucapkan “tolong”, menghaturkan “terima kasih”, meminta serta memberi “maaf” dalam berinteraksi sehari-hari telah membuat kita mempesona dengan sendirinya. 😉

Infografik - Investasi Kebaikan


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog yang diselenggarakan oleh PancarkanPesonamu.com – situs yang memberikan informasi seputar Beauty, Fashion and Lifestyle terkini untuk memancarkan pesonamu.

MemesonaItu

Advertisements

4 thoughts on “3 Kunci Memesona Tak Lekang Masa

  1. Setuju mbak. Skrg ini ngomong makasih kok kyk basa basi aja ya.. Harus nya bener2 tulus. Gpp di bilang lebay, yg pnting sungguh2 ngucapinnya.

    Salam kenal mbak

    theamazingjasmi.com

    Like

    1. Hi Mbak Jasmi, salam kenal juga ya!
      Iya Mbak, kita mulai dari kita sendiri yuks as we set example from ourselves. 😊
      Terima kasih sudah melipir ya…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s