Di Balik Semangat Kartini

Hari Kartini memang sudah lewat seminggu. Bahkan sudah melalui berpuluh-puluh tahun yang lalu sejak Kartini dilahirkan pada tahun 1879. Namun gaung semangatnya masih begitu kental terasa dan serasa takkan pernah pudar. Sebab semangat Kartini, akan selalu terpatri pada diri seorang perempuan. Tanpa mengenal status. Di hari kelahiran Raden Ajeng Kartini, kita – kaum perempuan – diingatkan agar tetap tegak bertahan, menjaga semangat untuk terus maju demi meraih impian. 

“Bermimpilah, bermimpilah, dengan hal yang demikian hatimu merasa berbahagia, mengapatah akan tidak?” – Raden Ajeng Kartini

Era Kartini

Lahir dari seorang ibu bernama Ngasirah yang merupakan garwa ngampil (selir) dengan ayahnya Raden Mas Ario Sosroningrat yang ketika itu menjabat sebagai bupati Jepara, sejak berumur 13 tahun, Kartini dipingit selama 6 tahun. Di masa pingitan dalam kamarnya, Kartini tidak tinggal diam. Meski sebelumnya sempat mengalami kebosanan teramat sangat dan patah arang, Kartini perlahan berhasil mengumpulkan semangatnya kembali dengan memberi asupan otaknya.

Terima kasih kepada Raden Mas Panji Sosrokartono yang telah mengirimkannya banyak buku dari negeri oranye. Pemikiran Kartini menjadi go International. Membuatnya terus gelisah berharap mampu mendobrak tradisi feodal serta memajukan harga diri kaumnya yang sedari lama diinjak-injak oleh lelaki-lelaki Jawa.

“Kalau anak laki-laki itu mementingkan diri sendiri, maka itu bukan salah mereka, itu terletak pada pendidikannya, mereka dibuat demikian. Mereka mendapat semuanya, boleh semuanya dan apa yang tidak mereka ambil, itu baik untuk anak-anak perempuan.” – Raden Ajeng Kartini

Ketiga putri Bupati Jepara itu (Kartini, Kardinah, dan Roekmini) dijuluki “Tiga Saudara” atau Het Klaverblad (daun semanggi) oleh Marie Ovink-Soer, perempuan Belanda istri Asisten Resisden Jepara yang merupakan sahabat Kartini sekaligus -“moedertje” – ibu kesayangan Kartini yang begitu mendukungnya. Julukan ini kemudian menjadi populer dan disegani di kalangan para laki-laki Jawa.

kartini-21

Terima kasih kepada ayah Kartini yang memberi keleluasaan dalam mengembangkan diri, melalui pola ukir “Macan Kurung” yang digagas Kartini, Het Klaverblad berhasil menghidupkan kembali sentra industri ukir kayu di Jepara. Bisnis yang semula hampir sekarat, perlahan merangkak kembali hingga tak lagi hanya bergerak di pasar lokal namun juga ke kancah Internasional.

Tiga Saudara itu juga sukses membangun sekolah untuk anak-anak perempuan di pendopo belakang rumah dinas ayahnya. Di sekolah yang setara Sekolah Dasar itu, mereka diberi pelajaran membaca, menulis, menggambar, memasak, merenda, menjahit, dan kerajinan tangan lainnya. Budi pekerti dan bahasa Jawa halus turut pula diajarkan.

images

Helaas (sayangnya), impian ketiga putri Jawa itu seolah harus kandas di tengah semangat juang mendobrak dan menggebrak tatanan tradisi yang merendahkan kaum perempuan. Sebagai priyayi yang memegang janji, ayah Kartini harus menikahkan Kardinah dengan asisten bupati Tegal.

Sementara asa besar Kartini yang ketika itu ingin belajar di Belanda, terpaksa dipadamkan. Cinta kepada ayahnya yang begitu mendalam telah mengalahkan hasrat yang sebelumnya menggebu-gebu. Hingga ia harus meminta maaf kepada Stella Zeehandelaar, sahabat penanya yang telah memperjuangkan beasiswa untuk Kartini.

Di umurnya yang baru seperempat abad lebih sedikit, setelah melahirkan putra laki-lakinya yang pertama dan terakhir – Raden Mas Singgih (kemudian dikenal RM Soesalit, salah satu mayor jenderal di masa pergerakan kemerdekaan Indonesia) – Kartini pun menutup mata selamanya…

Kartini Masa Kini

Berpuluh-puluh tahun kemudian sepeninggal Kartini, peringatan Kartini seringkali diidentikkan dengan seorang perempuan yang sukses berkarir di sebuah perusahaan. Apakah berkarir di sebuah perusahaan adalah kesuksesan yang begitu diidam-idamkan para perempuan masa kini hingga status Kartu Tanda Penduduk – ibu rumah tangga – menjadi begitu dipandang sebelah mata?

Kesuksesan itu relatif dan tidak sama bagi setiap orang. Namun kebanyakan menganggap bahwa jika seorang perempuan bisa meniti karir di perusahaan maka ia seseorang yang sukses. Generasi baby boomers masih seringkali melihat jika seorang perempuan yang berprofesi dokter spesialis, pegawai bank nasional, dan insinyur adalah perempuan hebat. Padahal Allah SWT tidak menciptakan perempuan untuk berkarir di luar rumah. Anak mau makan masakan ibunya dengan lahab tanpa berlari kesana kemari juga merupakan kesuksesan.

Kartini bukan career woman. Kartini adalah seorang perempuan yang berjuang mengangkat martabatnya demi perikehidupan kaumnya yang lebih baik, namun terpaksa mengalah demi cinta pada ayahnya, keluarganya. Seorang putri priyayi yang kemudian menjadi ibu rumah tangga.

Belakangan, setelah era Kartini, perempuan-perempuan Indonesia lambat laun menjadi lebih terdidik. Pendidikan yang dititi para perempuan ini semakin meninggi. Di angkatan saya dulu, meraih gelar Strata 1 sudah cukup. Namun semakin kemari, S1 dirasa kurang sehingga Strata 2 menjadi standar minimal. Terlepas dari standar tersebut, semua kembali kepada persepsi masing-masing. Meskipun, memang di zaman kekinian banyak perusahaan yang menetapkan seseorang dengan post-graduate degree menjadi standar acuan.

Seperti Kartini, setinggi-tingginya perempuan bergelar maupun yang sudah banyak makan garam di dunia korporasi, pada akhirnya akan kembali kepada kodratnya. Jet lag pasti akan menghampiri. Tapi, kalau ditelisik lebih dalam, saya yakin suatu perusahaan takkan mampu menggaji para ibu rumah tangga. Boro-boro para suami! Hehehe.

Saya masih ingat betul pernyataan suami pada suatu hari yang mengeluh lebih baik bekerja di kantor daripada menjaga anak. Padahal ketika itu, saya “hanya” titip anak tidak sampai satu hari. Yang dititipkan baru anak. Dan saya tidak menitipkan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Jika Ibu Rumah Tangga Digaji

Salary.com adalah perusahaan yang menciptakan produk dan jasa tentang bagaimana pemberi kerja dan pekerja dapat mengakses data gaji (compensation) secara online dan cepat melalui web. Dalam kurun 16 tahun terakhir, Salary.com secara berturut-turut telah mensurvei sejumlah 15.000 ibu untuk mencari tahu pekerjaan apa yang paling menguras waktu dan berapa waktu yang digunakan dalam beraktivitas di setiap minggunya.

Berdasarkan hasil survei tahun lalu, jam kerja yang digunakan untuk ibu rumah tangga dan ibu pekerja dalam mendapatkan basic salary atau upah dasar diasumsikan sama, yaitu 40 jam seminggu. (Padahal kerja ibu rumah tangga itu 24/7 ya!) Secara nominal, upah dasar ibu pekerja $ 4000 lebih tinggi daripada ibu rumah tangga. Namun secara over time, ibu rumah tangga mendapatkan lebih $ 57.000 dari ibu pekerja. Ibu rumah tangga “harus” bekerja ekstra lebih dari waktu standar kerja selama 52 jam. Sementara ibu pekerja “bisa” over time hingga 19 jam.

Selama 92 jam dalam seminggu, seorang ibu rumah tangga layak digaji Rp 1.901.192.234,63. Sedangkan 59 jam dalam seminggu, seorang ibu pekerja patut digaji Rp 1.199.941.866,36. Sehingga jika ditarik kesimpulan dalam rupiah, maka gaji ibu rumah tangga 0,6x lebih tinggi daripada ibu pekerja. 

Helaas, stigma masyarakat terhadap seorang ibu rumah tangga masih diremehkan dan sering diperdebatkan. 

Ibu Rumah Tangga & Ibu Pekerja Sama Saja

Bagi saya, status seorang ibu rumah tangga sama dengan ibu pekerja. Bukankah ibu rumah tangga itu juga bekerja? Ibu rumah tangga juga dapat berpenghasilan, mandiri secara finansial dari rumah. Ibu rumah tangga bisa menghasilkan melalui bekerja secara freelance, menjadi mompreneur, sekaligus investor. Ibu pekerja yang bekerja di perusahaan yang menjunjung nilai work-life balance dan menerapkan kebijakan work from home dapat pula bekerja dari rumah secara remote.

Yang membedakan ibu rumah tangga dari ibu pekerja adalah seseorang yang menjadi perhatian utamanya. Untuk melaksanakan pekerjaannya di kantor, seorang ibu pekerja mengacu kepada atasan dan kliennya. Sedangkan bagi ibu rumah tangga, khususnya yang telah memiliki anak, maka anak inilah yang menjadi boss-nya. Seorang ibu rumah tangga dan ibu pekerja dapat mempekerjakan orang lain untuk membantu meringankan pekerjaan rumah tangga. Namun peran seorang ibu tak akan tergantikan. 

Dari seorang ibu-lah pendidikan seorang anak itu pertama kali didapatkan. (Kecuali kalau si anak dari lahir langsung dimomong si embak ya.) Seorang ibu rumah tangga-lah yang akan meneruskan mendampingi pendidikan si anak di rumah. Bukan si embak. (Kecuali kalau si ibu rumah tangga memasrahkan urusan didik-mendidik ini ke si embak lagi ya.) Sedangkan ibu pekerja dapat mendampingi pendidikan anak di rumah dengan membuat program pendidikan anak selama ditinggal bekerja dan mengedukasikannya kepada pengasuh yang akan meneruskannya kepada sang anak.

Ibu pekerja maupun ibu rumah tangga memiliki alasan tersendiri di balik pilihan menjalankan perannya. Tidak ada yang perlu disandingkan untuk diperdebatkan siapa yang lebih hebat. Menjadi Perempuan Indonesia adalah menjadi perempuan yang mandiri, tidak menyerah pada keadaan (orang Jawa menyebutnya “nrimo”), menciptakan lingkungan di sekitarnya menjadi lebih baik tanpa melupakan kebahagiaan dirinya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Menulis “Menjadi Perempuan Indonesia” yang diadakan oleh Tribunnews.com

 

Advertisements

6 thoughts on “Di Balik Semangat Kartini

  1. Pekerjaan ibu rumah tangga memang tidak ada selesainya ya mbak, tapi sayang memang masih banyak diremehkan karena ‘tidak bergaji’. Padahal kalau digaji, pasti banyak yang mau hehe. Btw R.A. Kartini dapat buku banyak dari negeri oranye jadi penasaran berarti dulu Kartini mahir berbahasa belanda ya?

    Like

    1. Orang Jawa dulu biasa menyebut istri itu “kanca wingking” atau teman hidup yg biasanya berada di dapur. Nah, ketika itu dapur rumah ada di belakang rumah. Ada juga yg menyebut pekerjaan istri itu 3M, yaitu macak, masak, manak (berhias, memasak, dan beranak). Dari budaya seperti itulah kenapa persepsi orang kebanyakan masih menganggap remeh seorang ibu rumah tangga.

      Betul Mbak, Kartini fasih berbahasa Belanda. Buku Habis Gelap Terbitlah Terang, merupakan kumpulan surat-surat Kartini dengan sahabat penanya di Belanda. Dengan demikian, Kartini juga jago menulis dalam bahasa Belanda. 😊

      Like

  2. Cerdas bangeet mbaak artikelnya. Gak kerasa udah habis aja bacanyaaa. Saya pribadi salut bangeet sama Ibu Rumah Tangga mbaak. Mereka istimewa, telaten banget mengurusi pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya. Apapun bisa mereka kerjakan. 😊😊 bahkan para ibu pekerja pun kalah dengan full time mother ini. Sosok kartini yang sesungguhnya 😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s