Sosok Ki Hajar Dewantara dan Hardiknas yang Tak Terasa

Kalau Hari Kemerdekaan Indonesia, potong kambing massal, terima rapor krucil, hari gajian maupun hari jatuh tempo cicilan pasti pada ingat. Kalau tanggal 2 Mei, ingat nggak hari apa? Bukan hari Selasa ya.. Mengaku sajalah kalau lupa ada apa di tanggal itu. Hehehe.

Hari Pendidikan Nasional yang diputuskan oleh presiden kita pada waktu itu, Ir. Soekarno, untuk diperingati setiap tanggal 2 Mei memang jauh gregetnya kalau dibandingkan dengan Hari Kartini yang telah berlalu. Terlebih buat mak-emak semacam saya yang sudah lamaaa banget tidak mengikuti upacara sekolah dan menganggap semua hari itu sama sampai lupa hari-ini-hari-apa. Dengan jarang mengikuti upacara, saya menjadi kuper terhadap hari-hari peristiwa penting di Indonesia.

Padahal, ada alasan tersendiri dan sangat penting untuk direnungkan kembali kenapa sampai-sampai Pak Karno menetapkan tanggal tersebut sebaiknya diperingati. Sayangnya, semakin kemari gaungnya makin tak terasa. Di sekolah anak saya pun tenang-tenang saja, tidak ada upacara peringatan Hardiknas seperti sekolah zaman saya dulu. Sedih.

Pak Karno menetapkan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional sebab pada hari itu merupakan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Memangnya kenapa? Dulu saya hanya sekilas mengenalnya melalui buku sejarah dan melewati fotonya di tembok kelas. Kini, saya menjadi kepo.

Siapa Ki Hajar Dewantara?

Ki Hajar Dewantara adalah pelopor pendidikan bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Nama asli beliau adalah Raden Mas Suwardi Suryaningrat, cucu Kanjeng Sri Pakualam III yang dilahirkan pada tanggal 2 Mei 1889 dari ayahnya yang bernama Kanjeng Pangeran Harya Suryoningrat dan ibunya, Raden Ayu Sandiyah yang merupakan buyut Nyi Ageng Serang (keturunan Sunan Kalijaga).RM Suwardi

Sebagai bangsawan, kala itu RM Suwardi mendapat keistimewaan yaitu memperoleh beasiswa dari pemerintah kolonial Belanda untuk bersekolah di School Opleiding van Indische Artsen atau STOVIA (kini Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Pada tahun kelima bersekolah, RM Suwardi sakit yang menyebabkan beliau tidak lulus dan dicabut beasiswanya.

Namun dikabarkan bahwa terdapat unsur politis dalam pencabutan beasiswa tersebut. Sebelumnya dalam sebuah pertemuan, RM Suwardi mendeklamasikan sebuah sajak tentang Ali Pasha Sentot Prawirodirdjo (salah satu panglima hebat Pangeran Diponegoro). Deklamasi tersebut menuai kecaman dari pihak sekolah maupun pemerintah Belanda karena dinilai telah mengobarkan semangat pemberontakan terhadap pemerintah Belanda.

Drop out dari sekolah, Ki Hajar Dewantara meniti perjalanan karirnya sebagai wartawan di beberapa surat kabar yaitu Sedyotomo, Midden Jaya, De Express, Oetoesan Hindia, Tjahaya Timoer, Poesara, dan Kaoem Moeda. Melalui tulisan-tulisannya yang kontroversi, patriotik namun komunikatif, beliau dikenal berani membangkitkan semangat persatuan serta memperjuangkan hak pribumi Indonesia agar dapat juga mengenyam pendidikan. Waktu itu, hanya anak-anak Belanda dan kaum bangsawan yang berhak sekolah.

Mereka adalah Tiga Serangkai

Di samping menulis, beliau juga terlibat aktif dalam berorganisasi menjadi salah satu seksi di Boedi Oetomo yang mensosialisasikan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudi) dan dr. Cipto Mangunkusumo, pada 25 Desember 1912 beliau mendirikan Indische Partij, partai politik nasonalis pertama yang bermisikan Indonesia merdeka. Ketiganya kemudian dikenal sebagai “Tiga Serangkai”.

Tiga Serangkai

Indische Partij diupayakan agar terdaftar sebagai badan hukum, tetapi ditolak oleh pemerintah Belanda karena dikhawatirkan dapat membangkitkan semangat nasionalisme dan persatuan rakyat Indonesia. Meskipun mendapat penolakan, RM Suwardi pantang mundur, sebaliknya tetap berjuang dengan ikut membentuk Komite Boemipoetra.

Komite Boemipoetra dibentuk untuk menandingi dan memprotes komite perayaan 100 tahun kemenangan Belanda dari penjajahan Perancis. Untuk membiayai perayaan kemenangan tersebut, komite perayaan Belanda menarik uang dari rakyat jajahannya, termasuk Indonesia. Melalui tulisannya yang dimuat di surat kabar De Express milik Douwes Dekker, berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Andai Aku Orang Belanda) dan Een voor Allen maar ook Allen voor Een (Satu untuk Semua tapi juga Semua untuk Satu), RM Suwardi mengkritik rencana pemungutan uang tersebut.

Tulisan kritikan yang dianggap menghina pemerintah Belanda itu membuat Ki Hajar Dewantara harus menjalani hukuman innering tanpa proses peradilan. Hukuman innering adalah hukuman bagi seseorang dengan cara mengasingkannya di tempat yang telah ditunjuk. RM Suwardi pun diasingkan ke Pulau Bangka.

Mengetahui rekan seperjuangannya diperlakukan tidak adil, Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo membuat tulisan protes yang terkesan membela RM Suwardi. Tulisan yang dianggap menghasut, menimbulkan permusuhan, dan mengobarkan perlawanan terhadap pemerintah Belanda tersebut mengakibatkan keduanya juga dihukum innering. Douwes Dekker diasingkan ke Kupang sedangkan dr. Cipto Mangunkusumo ke Pulau Banda.

Namun ketiganya menghendaki menjalani hukuman di negeri Belanda agar dapat mempelajari banyak hal dibandingkan di daerah terpencil. Pemerintah Belanda mengabulkan dan sejak Agustus 1913, mereka menjalani hukumannya. Sebelum berangkat, RM Suwardi sempat menikah dengan Raden Ayu Sutartinah Sasraningrat (kemudian dikenal sebagai Nyi Hajar Dewantara yang sangat berperan penting dalam perjuangan suaminya).

Belajar Ketika Dihukum

Selama masa pengasingan di Belanda, RM Suwardi beserta keluarganya menjalani hidup dengan keprihatinan. Untuk menutup biaya hidup dan mengumpulkan Buletin Hindia Poeteramodal kembali ke Tanah Air, RM Suwardi bekerja sebagai guru taman kanak-kanak di Frober School dan menjalani hidup sehemat mungkin.

RM Suwardi juga aktif berpartisipasi dalam Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia serta mendalami bidang pendidikan dan pengajaran hingga mendapat Europeesche Akte atau ijazah pendidikan. Sejak RM Suwardi masuk ke Perhimpunan Hindia pada tahun 1913, mulailah perhimpunan tersebut memikirkan masa depan Indonesia dan memasuki kancah politik. Waktu itu pula, vereeniging menerbitkan buletin Hindia Poetra yang menjadi sarana penyampaian ide-ide anti kolonial.

Back for The Greater Good

Pada tahun 1918, RM Suwardi kembali ke Tanah Air dan tetap berjuang melalui jalur pendidikan. Pada tanggal 3 Juli 1922 beliau mendirikan National Onderwijs Instituut Taman Siswa (Pergurunan Nasional Taman Siswa) yang mengajarkan cinta kebangsaan dan semangat perjuangan meraih kemerdekaan yang berpedoman pada 3 semboyannya tak awam kita dengar…

Ing ngarso sung tulodho (di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah memberi prakarsa/ide), tut wuri handayani (di belakang memberi dukungan).

Taman Siswa

Tak sedikit aral melintang yang dihadapi RM Suwardi dalam perjuangannya melalui Taman Siswa. Pada tanggal 1 Oktober 1932 Pemerintah Belanda mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar. Akan tetapi berkat kegigihan RM Suwardi yang keras namun tak kasar, Ordonansi tersebut berhasil dicabut.

Di usianya yang genap 40 tahun, RM Suwardi yang ketika itu sering disebut dengan Ki Ajar (atau Ki Hajar dalam penulisan Jawa), mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Beliau melepaskan atribut kebangsawanannya, melebur dengan rakyat, dan berjuang bersama melalui pendidikan dan tulisan-tulisannya yang tak sedikit. Pasca kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang pertama di Indonesia.

Pada tahun 1957, Ki Hajar Dewantara mendapat penghargaan gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada. Selang 2 tahun setelah pemberian penghargaan tersebut, Ki Hajar Dewantara berpulang, mewarisi keberanian serta nilai-nilai semangat perjuangannya kepada kita, yaitu memajukan bangsa tanpa membeda-bedakan apapun latar belakang kita. 

“Melalui ngerti, ngrasa, lan ngelakoni (mengetahui, merasakan, dan melakukan), budi pekerti yang dibentuk untuk merdeka dan mandiri akan hadir adab” – Ki Hajar Dewantara

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s