Bersama Kita Bisa Meraih Berkah Bonus Demografi Indonesia

Profil Kependudukan Indonesia Saat Ini

Indonesia. Negeri yang semula dikenal gemah ripah loh jinawi dengan beragam suku, budaya, agama, kondisi ekonomi serta penduduknya yang besar. Dengan total lebih dari 258 juta penduduk, Indonesia menempati rangking ke-4 populasi dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Dengan laju pertumbuhan penduduk 1,49% (sekitar 4 juta per tahun) yang setara dengan jumlah penduduk Singapura, total penduduk Indonesia pada tahun 2030 diperkirakan dapat menembus 300 juta.

Dari data statistik, mayoritas populasi penduduk Indonesia saat ini berada dalam rentang usia produktif, yaitu 15-64 tahun. Usia produktif adalah usia ketika seseorang dianggap dapat berproduksi atau menghasilkan sesuatu. Pada tahun 2010, proporsi penduduk usia produktif adalah 66,5%. Proporsi ini diperkirakan akan terus meningkat hingga 68,1% pada tahun 2028 sampai dengan tahun 2031.

Usia_Produktif_Dominasi_Penduduk_Indonesia_2016

Dengan meningkatnya penduduk kelompok usia produktif, menyebabkan penurunan rasio ketergantungan (dependency ratio), yaitu jumlah penduduk yang non-produktif (usia 0-14 tahun dan 64 tahun ke atas) ditanggung oleh jumlah penduduk produktif. Pada tahun 2010, rasio ketergantungan Indonesia sebesar 50,5% dan diperkirakan akan menurun menjadi 46,9% pada tahun 2028-2031. Tahun lalu (2016), rasio ketergantungan Indonesia sebesar 48,4%. Ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang dengan usia produktif menanggung penduduk usia non-produktif sekitar 48-49 orang.

Indonesia_Masuk_Era_Bonus_Demografi

Berdasarkan data tersebut, Indonesia saat ini sedang mengalami bonus demografi (demographic dividend) yang akan semakin meningkat dan akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2030. Bonus demografi adalah masa dalam suatu negara ketika jumlah penduduk produktif lebih banyak daripada jumlah penduduk non-produktif. Dengan adanya bonus demografi, maka peluang Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dicapai. Tentu saja, peluang ini sebaiknya tidak kita sia-siakan namun harus sungguh-sungguh kita persiapkan dan lakukan bersama-sama.

Langkah Menuju Kestabilan Pertumbuhan Ekonomi

Indonesia pernah mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi yang mencapai 6,2% pada tahun 2011. Namun, mulai tahun 2013 pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan dengan rata-rata berada di bawah 6%. Sementara pada triwulan I tahun ini, ekonomi Indonesia telah mencatat pertumbuhan sebesar 5,01%, lebih tinggi dari target yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu 4,92%. Untuk tahun berikutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia telah ditetapkan Presiden Jokowi sebesar 5,4%-6,1%.

2018__Pertumbuhan_Ekonomi_Ditargetkan_5_4-6_1_Persen

Ada banyak cara pemerintah dalam mencapai pertumbuhan ekonomi, misalnya peningkatan ekspor, penanaman modal asing (PMA) maupun domestik (PMDN), kredit perbankan, belanja modal Badan Usaha Milik Negara, bertambahnya jumlah perusahaan masuk bursa, stimulus fiskal, memperkuat struktur penerimaan pajak, pengendalian nilai mata uang rupiah, inflasi, dll.

Sejalan dengan berbagai upaya tersebut, pemerintah juga telah disarankan agar dapat memanfaatkan bonus demografi dengan sebaik-baiknya. Bonus demografi bisa menjadi berkah dengan penerapan beragam program di berbagai bidang. Di tahun ini, pemerintah telah memprioritaskan 6 program, yaitu:

  1. Meningkatkan belanja produktif untuk pembangunan infrastruktur dan konektivitas antar wilayah.
  2. Melakukan efisiensi dan penajaman belanja barang untuk meningkatkan ruang fiskal.
  3. Meningkatkan kualitas dan efektivitas program perlindungan sosial.
  4. Memperkuat pelaksanaan program prioritas di bidang pendidikan, kesehatan, kedaulatan pangan & energi, kemaritiman & kelautan, serta pariwisata & industri.
  5. Menyalurkan subsidi yang lebih tepat sasaran dan program bantuan sosial non-tunai.
  6. Mendukung penegakan hukum dan upaya menjaga stabilitas pertahanan dan keamanan

Peningkatan Kualitas Pendidikan

Di bidang pendidikan secara khusus misalnya, pemerintah tengah mengupayakan pemerataan akses pendidikan dasar dan menengah yang seluas-luasnya, khususnya untuk kalangan yang kurang mampu. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan penambahan anggaran beasiswa untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Sejak 5 tahun yang lalu LPDP didirikan, anggaran yang semula Rp 1,3 triliun kini sudah dianggarkan hingga mencapai Rp 2,5 triliun.

Menurut data statistik, sampai dengan saat ini, LPDP telah menyalurkan beasiswa master dan doktoral kepada 16.295 penduduk Indonesia. Sebanyak 10.406 kini tengah menempuh pendidikan dengan 4.831 penduduk di luar negeri dan sisanya di dalam negeri. Para penerima beasiswa (awardees) yang menempuh pendidikan di luar negeri kebanyakan memilih negara Inggris sebagai negara tujuan studi (1.679 awardees), disusul Belanda (798 awardees) lalu Australia (684 awardees).

Di luar beasiswa yang diberikan LPDP, masih banyak lagi beasiswa yang diberikan oleh negara selain Indonesia. Tak sedikit pula putra-putri terbaik Indonesia yang menerima beasiswa-beasiwa tersebut.

Dengan semakin bertambah banyak jumlah alumnus luar negeri, tentu saja yang diharapkan adalah semakin meningkatnya kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dengan ilmu dan cara berpikir yang berbeda, mereka diharapkan dapat memberikan kontribusi pembangunan dengan cara yang lebih baik.

Inggris_Tujuan_Favorit_Penerima_Beasiswa_LPDP

Penyumbang Terbesar Bonus Demografi

Dengan total penduduk Indonesia yang menempati urutan ke-4 di dunia, Indonesia sudah jelas merupakan market (pangsa pasar) yang besar. Terlebih dengan pesatnya perkembangan teknologi digital serta pilihan gaya hidup generasi sekarang yang didominasi generasi Y dan Z yang lebih memilih online platform untuk menunjang kemudahan dalam hidup sehari-hari.

Generasi Y adalah generasi kelahiran 1978-1997, sedangkan generasi Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1998-2017. Tabel di bawah ini menunjukkan bahwa generasi Z merupakan pengguna internet terbesar sebanyak 40%, diikuti generasi Y (33-38%). Mereka inilah yang turut menyumbang bonus demografi terbesar di Indonesia.

Gen_Y_dan_Z_Cenderung_Beralih_ke_Platform_Online

Selain itu pasar Indonesia juga prospektif. Pada tahun 2015, sebagai contoh Facebook telah melihat Indonesia sebagai negara ke-4 terbesar yang menggunakan mereka sebesar 54 juta pengguna (21% dari total populasi). Terima kasih kepada generasi  Y dan Z.

Indonesia__Target_Pasar_Utama_Facebook_-_Katadata_News

Namun, apakah kita akan terus-menerus menghabiskan waktu dengan kerap mengunjungi Facebook dan menjadi negara yang konsumtif?

“Paradigma pembangunan yang bersifat konsumtif, kita ubah menjadi produktif,” – Jokowi

Dengan ledakan penduduk usia produktif yang tengah kita alami saat ini dan akan mencapai puncaknya yang tinggal dalam hitungan beberapa tahun ke depan, muncul pertanyaan – what if (bagaimana jika). Bagaimana jika kita tidak siap? Apakah kita punya plan B (rencana cadangan)? Bagaimana jika bonus demografi ini justru menjadi beban ketenagakerjaan? Indonesia dengan pengangguran yang semakin meningkat?

Bagaimana Indonesia dalam Angka Ketenagakerjaan?

Jika kita lihat dari statistik Indonesia, di tahun 2015, tingkat pengangguran Indonesia menempati urutan ke-3 tertinggi di Asia Tenggara yang mencapai 6,2% di bawah Filipina (6,5%) dan Brunei Darussalam (6,9%). Kecuali itu, berdasarkan laporan World Economic Forum, Indonesia mengalami kekurangan sumber daya manusia (SDM) yangmana pada tahun 2020 diperkirakan hanya 56% SDM yang mampu menduduki posisi manajerial.

Pengangguran_Indonesia_Tertinggi_ke-3_di_Asia_Tenggara

Sementara itu, produktivitas tenaga kerja Indonesia berada pada nilai sekitar US$ 23 ribu terhadap total PDB per tahun. Indonesia tertinggal dari Thailand (US$ 24,9 ribu) dan Malaysia (US$ 21 ribu). Terlebih jika dibandingkan dengan Singapura yang mampu mencapai nilai sebesar US$ 125,4 ribu. Produktivitas merupakan suatu ukuran yang menyatakan bagaimana baiknya sumber daya diatur dan dimanfaatkan untuk mencapai hasil yang optimal. Produktivitas sangat diperlukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Produktivitas_Tenaga_Kerja_Indonesia_Masih_di_Atas_Cina

Dengan tingkat produktivitas yang rendah, menjadikan tenaga kerja Indonesia jauh kalah bersaing dengan tenaga kerja asing. Dengan diberlakukannya pasar bebas dalam ranah Asia Tenggara, yaitu Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di awal tahun 2016 dan diberlakukannya bebas visa bagi 160 negara, telah menambah minat tenaga kerja asing untuk datang dan bekerja di Indonesia. Sampai dengan akhir tahun 2016, tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia telah mencapai 74.183 ribu pekerja, naik 7,5% dari tahun sebelumnya. Tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia didominasi warga negara Tiongkok yang mencapai 21.271 pekerja (28,7%), diikuti Jepang (16,8%).

Jika menilik jumlah pengusaha Indonesia yang diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru, jumlah pengusaha di Indonesia baru mencapai 1,65% dari jumlah penduduk. Rasio tersebut jauh tertinggal dibandingkan dengan jumlah pengusaha di negara tetanga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Standar terbaik jumlah pengusaha dalam suatu negara adalah 2% dari total populasi. Meskipun demikian, berdasarkan survei pada tahun 2013 yang dilakukan Global Entrepreneurship Monitor keinginan Indonesia untuk berwirausaha tertinggi ke-2 di ASEAN setelah Filipina.

Indonesia_Masih_Kekurangan_Pengusaha

Bonus Demografi dan Kontribusi Kita untuk Semua

Dengan berbagai upaya maupun program yang telah dicanangkan pemerintah, bagaimana dengan kita? Apa yang dapat kita kontribusikan untuk Indonesia kita?

“Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.” – John F. Kennedy

Beberapa waktu yang lalu saya mengunjungi pameran buku terbesar yang di selenggarakan di Indonesia Center Exhibition. Di sana saya melihat tumpukan buku yang menggunung, beratus-ratus bahkan ribuan mungkin, memenuhi 3 halls di pusat pameran tersebut. Sebagian besar buku yang dijual dengan harga miring itu merupakan buku karangan orang asing. Hanya sedikit buku-buku dengan pengarang Indonesia yang terlihat di salah satu bagian hall.

Sementara itu, saya melihat dari berbagai blog yang pernah saya kunjungi, beberapa di antara para bloggers tersebut sudah menerbitkan satu, dua, atau beberapa buku. Buku-buku tersebut merupakan hasil buah karyanya sendiri ataupun yang bekerja sama dengan blogger/penulis lain.

Saya membayangkan, bagaimana jika kita juga menyelenggarakan pameran buku hasil penulisan kita di kancah Internasional? Dari buku-buku karangan terbitan para blogger, terlebih jika ditambah buku-buku yang ditulis dari kalangan non-blogger, tentunya kita bisa. Kita pun pasti mampu untuk menulis buku dalam bahasa Inggris.

Tak hanya menulis buku, Indonesia juga memiliki banyak desainer grafis maupu ahli gambar doodles, komikus, dan lain-lain yang dapat menunjang sebuah buku menjadi lebih menarik melalui gambar. Selain melalui pariwisata, kita juga dapat mengenalkan Indonesia dalam konteks tulisan dan sudut pandang yang berbeda kepada dunia. Dan ini, tak pelak dapat meningkatkan minat wisatawan, pelajar, dan bahkan mungkin investor asing masuk ke Indonesia.

Buku hanyalah salah satu media. Kita juga dapat menambah angka kewirausahaan dan membuka lapangan kerja di Indonesia. Terlebih saat ini rasanya kita tak lagi memerlukan lapak atau menyewa tempat untuk membuka bisnis. Sebagai pengguna Facebook terbesar ke-4 di dunia, tentunya kita, secara umum, telah sangat melek dengan online platform dan e-commerce.

Meskipun kita telah tamat sekolah atau kuliah, bukan berarti kita tamat belajar. Tidak ada kata “end of story” dalam belajar. Dan tak ada pula istilah “terlambat belajar”. Mari kita tengok negara-negara tetangga kita, Singapura, Malaysia, Thailand yang memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Apa yang dapat menyebabkan mereka begitu produktif? Padahal ketika itu Indonesia-lah yang mengirimkan guru-guru kita ke Malaysia.

Kita bisa belajar darimana saja. Dan oleh siapa saja. Tak terkecuali ibu rumah tangga. Seorang ibu rumah tangga dapat terus keep-up-to-date tak hanya dari komunitas arisannya. Tetapi juga dari Databoks, portal yang secara singkat dan padat namun komprehensif memberikan data statistik ekonomi dan bisnis secara cepat dan reliable.

Databoks merupakan bagian dari Katadata, perusahaan dan media online yang berdiri sejak tahun 2012. Databoks disajikan dengan konsep data publish, yaitu data-data yang telah dikumpulkan oleh Databoks, diringkas kemudian diangkat berdasarkan topik tertentu. Beberapa data publish memiliki narasi untuk memberikan makna yang jelas bagi para pembaca. Setiap konten data publish memiliki informasi yang lengkap seperti nilai, keterangan waktu, sumber, topik, dan industri.

Tujuan Databoks adalah untuk memudahkan perusahaan, pelaku bisnis, periset, pelajar, pemerintah, dan media untuk mencari dan mengolah data ekonomi dan bisnis secara cepat untuk berbagai keperluan, seperti presentasi, pembuatan laporan dan memperkuat pemberitaan di media.

Jika Indonesia kini tak bisa lagi menjadi gemah ripah loh jinawi, setidaknya kita bisa turut berkontribusi menciptakan negeri yang toto titi tentrem karto raharjo (keadaan yang tentram). Yuk, kita bersama-sama memanfaatkan masa bonus demografi ini dengan tak bosan belajar dan berkarya untuk kita, Indonesia. Saya, Anda – kita – adalah bonus demografi itu. Kita pasti bisa!


Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog “Kenali Indonesia dengan Data” dengan seluruh tabel data bersumber dari Databoks dan informasi dari berbagai sumber.

Lomba_Blog_Databoks_-_Kenali_Indonesia_dengan_Data

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s