Pusing Pilih Trading atau Investing Saham? Ini Obatnya…

Selamat Mak! Akhirnya Emak memutuskan juga untuk mengembangkan uang Emak melalui portfolio saham. Buat Emak yang masih belajar menumbuhkembangkan uang selain dengan menabung secara konvensional, jangan berkecil hati karena belajar-bersama-kita sudah sampai disini ya. Emak bisa membaca posting pendahulunya, yaitu Investasi, Apa Itu? maupun Berkenalan dengan Saham Yuks! sebagai langkah awal PDKT dengan “saham”. Semangat!

Dulu, saya masih awam banget dalam dunia saham yang “blink blink” dan meyakini bahwa saham itu seolah mainan khusus bagi orang kaya. Padahal, “kaya” itu relatif kan ya Mak? Menjadi kaya tak selalu identik dengan besarnya nominal yang tertera di rekening kita, gaji bulanan yang kita terima, profit bisnis yang didapat ataupun sisa uang belanja yang berhasil kita kumpulkan. Baik hati, suka menolong, dan rajin menabung menandakan bahwa kita juga termasuk orang kaya. Kaya karakter yang positif untuk esok hari yang lebih baik. Hehehe… 

Berawal dari kekayaan positivity kita yang rajin menabung tersebut, alangkah lebih baik kalau dialihkan sedikit demi sedikit melalui portfolio saham (menabung saham).

Tidak seperti menabung konvensional di bank, ada 2 cara menabung saham yaitu dengan berinvestasi (investing) atau berdagang (trading).

Investing dan trading memiliki cara tersendiri dalam meraih keuntungan di pasar keuangan.

Investing

Tujuan investasi (saham) atau investing adalah secara bertahap membangun kekayaan dengan membeli dan menahan portfolio saham (ataupun instrumen investasi lainnya seperti reksa dana, obligasi, dll.) dalam kurun waktu yang kita tentukan sendiri.

Investasi di portfolio saham, misalnya, biasanya ditahan selama periode 1, 2, 3 tahun atau bahkan hingga selama 1 dekade (10 tahun) untuk mengambil keuntungan dari dividen dan stock splits* (apabila emiten atau perusahaan yang mengeluarkan saham mengadakannya).

Beberapa investor kerap menambah keuntungannya dengan compounding atau menggabungkan hasil keuntungan dari menahan suatu saham dengan portfolio saham tersebut. Contohnya, ketika Mak Ipeh memiliki saham TLKM (PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.) yang di setiap tahunnya membagikan dividen, lalu menempatkan keuntungan dividen tersebut ke dalam saham TLKM Mak Ipeh yang selama ini dipegangnya. Compounding ini seperti apabila kita menabung dengan deposito dimana kita menempatkan bunga deposito yang kita dapat namun tidak kita ambil (withdraw) melainkan kita tabungkan kembali ke dalam deposito. Singkatnya, compounding adalah bunga berbunga.

Bagi investor yang beraliran investing ketika menghadapi pasar yang berfluktuasi (dan seringnya akan fluktuatif atau harga-harga sahamnya naik turun mendaki gunung, menuruni lembah) biasanya tidak terlalu ambil pusing. Investor seperti Warren Buffet dari Nebraska-Amerika, Lo Kheng Hong (Warren Buffet-nya Indonesia) percaya bahwa harga-harga saham kelak akan rebound atau pulih (misalnya harga saham X jatuh, suatu saat kan naik kembali) dan segala kerugian yang timbul pada akhirnya akan tertutup.

Tipikal investing investor cenderung lebih memperhatikan fundamental pasar, seperti kebijakan manajemen perusahaan dan P/E ratio (price to earning ratio). P/E ratio yaitu rasio untuk menilai sebuah perusahaan dengan membandingkan harga saham perusahaan saat ini terhadap pendapatan per lembar sahamnya. Lain kali kita belajar lebih jauh tentang rasio-rasio ya Mak.

Trading

Kata lainnya yang sering dan sedap kita dengar adalah “kulakan“. Yak betul Mak, trading adalah kulakan. Investasi secara kulakan atau trading melibatkan frekuensi jual-beli saham, komoditas, mata uang, atau instrumen investasi yang lain.

Tujuan trading adalah menghasilkan keuntungan dari selisih harga jual-beli dalam waktu yang relatif singkat (dikenal juga “selling short”) di pasar yang sedang turun.

Trading investor (traders) berbeda dari investing investor (investors) yang membeli lalu menahan sahamnya dalam waktu yang lama dan cuek saja dengan kondisi pasar yang lesu. Trading investor bisa dibilang seperti tukang bakulan atau pedagang.

Dalam meraup keuntungan secara singkat dari selisih harga jual-beli ini, traders secara rata-rata dapat membukukan keuntungan sebesar 10% per bulan. Sedangkan investors harus puas dengan keuntungan sebesar 10-15% per tahun.

Dari keuntungan bulanan yang bisa dihasilkan oleh traders, tak sedikit yang mampu berpenghidupan dari aksi jual-beli saham dalam waktu yang cepat ini. Oleh karenanya, traders biasanya adalah orang-orang yang gigih dalam menghasilkan profit, namun juga harus bisa sportif (berlapang dada menerima kekalahan ketika take losses atau mengalami kerugian).

Nah, supaya tidak rugi terus-menerus, dalam bertransaksi traders menggunakan fasilitas “stop loss” yang disediakan oleh broker tempat si trader berlangganan aplikasi trading. Namun tidak semua broker memfasilitasi stop loss, jadi kalau Emak ingin trading tapi tetap antisipatif agar kemungkinan kerugian yang timbul terkontrol, sebaiknya pilih broker yang menyediakan fasilitas tersebut.

Tujuan stop loss berfungsi untuk menghentikan kerugian lebih lanjut pada harga yang telah ditentukan sebelumnya (oleh traders sendiri) secara otomatis.

Selain rasio-rasio seperti yang digunakan oleh investors, traders seringkali juga menggunakan “alat tempur” analisa tehnikal, misalnya moving averages** dan stochastic oscillators*** untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan tertinggi dalam menentukan waktu posisi jual atau beli.

Secara umum, traders dapat dikategorikan menjadi 4 tipe berdasarkan waktu penentuan posisi jual atau beli yang dilakukannya:

  1. Position trader, trading saham dalam bulanan hingga tahunan.
  2. Swing trader, trading saham dalam harian hingga mingguan.
  3. Day trader, trading saham dalam sehari tanpa melewati 1 malam.
  4. Scalp trader, trading saham dalam hitungan detik hingga menit tanpa melewati 1 malam.

Para trader ini seringnya memilih cara trading atau mengkategorikan dirinya berdasarkan seberapa besar budget investasi saham di rekening, waktu yang dimilikinya untuk dicurahkan dalam ber-trading, pengalaman ber-trading, profil personal, dan tingkat toleransi dalam menerima risiko.

Jadi… Dalam mengembangkan keuntungan berinvestasi, investors menahan sahamnya selama yang ia tentukan sendiri hingga mendapatkan keuntungan dalam porsi besar (big chunk), sedangkan traders menjual-belikan sahamnya dalam waktu yang singkat untuk memperoleh keuntungan dalam skala kecil namun sering.

Sudah tidak pusing lagi kan, Mak? 😊

Infografik_trading vs investing


*Stock splits: pemecahan jumlah lembar saham menjadi jumlah lembar yang lebih banyak dengan menggunakan nilai nominal yang lebih rendah per lembar sahamnya secara proporsional. Misalkan sebuah perusahaan melakukan stock split 1:5 (1 split jadi 5 atau stock split dengan rasio 1 banding 5 ).

**Moving averages: pergerakan harga rata-rata suatu saham dalam priode waktu tertentu.

***Stochastic oscillators: salah satu indikator untuk menentukan sinyal beli (golden cross) atau sinyal jual (death cross) saham dengan menggunakan dua garis perpotongan sinyal.

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Pusing Pilih Trading atau Investing Saham? Ini Obatnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s